Yuk Kenali Bilirubin Pada Bayi : Penyebab, Gejala, dan Cara Perawatannya

TanyaNers –Sebagai Orang tua baru Mommy perlu tahu bahwa Neonatal jaundice atau bayi kuning atau adalah kondisi yang umum dialami oleh bayi baru lahir. Apabila bayi mengalami jaundice (penyakit kuning), kadar bilirubin di dalam tubuhnya perlu dipertanyakan. Padalnya, kondisi ini menandakan bahwa bayi memiliki kadar bilirubin yang terlalu tinggi. Lantas, berapa sebenarnya kadar bilirubin normal pada bayi? Yuk Mommy ketahui informasi lebih lanjut tentang kadar bilirubin normal pada bayi dalam ulasan di bawah ini.

Mommy Harus tahu dulu Apa itu Bilirubin ?

Bilirubin adalah zat kuning yang berasal dari proses penghancuran sel darah merah secara alami. Kondisi ini sering terjadi pada bayi dikarenakan fungsi hatinya belum bekerja secara maksimal. Selain itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan bayi terlahir dengan penyakit kuning. Bilirubin terbentuk dari hasil pemecahan sel darah merah. Evaluasi kadar bilirubin dalam darah bisa dijadikan salah satu upaya dalam mendeteksi kemungkinan suatu penyakit pada bayi, seperti gangguan hati, gangguan kantung atau saluran empedu, kelainan darah, infeksi, inkompatibilitas golongan darah, dan sebagainya.

Pada beberapa kasusbilirubin tinggi bisa juga menandakan bayi yang kekurangan ASI atau terlahir premature. Sebenarnya, kadar bilirubin yang meningkat pada bayi baru lahir merupakan hal yang umum terjadi, terutama pada 24–72 jam pertama kelahiran. Namun, kondisi ini biasanya tidak berlangsung lama. Pasalnya setelah 2–3 minggu, kadar bilirubin bayi dapat kembali normal.

Menurut American Pregnancy Association (APA), kadar bilirubin normal bayi baru lahir adalah sebagai berikut:

  • Usia bayi di bawah 24 jam: Di atas 10 mg.
  • Usia bayi 24–48 jam: Di atas 15 mg.
  • Usia bayi 49–72 jam: Di atas 18 mg.
  • Usia bayi lebih dari 72 jam: Di atas 20 mg.

Kadar bilirubin normal pada bayi dapat diukur melalui pemeriksaan darah pada beberapa hari setelah bayi lahir. Selain itu Mommy juga bisa juga dengan memeriksa kondisi fisik bayi untuk melihat apakah ada perubahan warna kuning di bagian kulit, gusi, serta di bagian putih mata.

Baca juga: Tips Memilih Alat Makan Bayi yang Aman untuk MPASI

Penyebab Bilirubin Tidak Normal pada Bayi

sc mindthebleep

Kadar bilirubin yang tidak normal pada bayi baru lahir merupakan kondisi yang cukup umum terjadi. Berbeda dengan orang dewasa, organ hati bayi belum berkembang dengan sempurna sehingga belum bisa mengontrol bilirubin secara optimal.

Selain itu, ada sejumlah faktor lain yang dapat menyebabkan kadar bilirubin tidak normal pada bayi baru lahir, di antaranya sebagai berikut.

  1. Kelebihan bilirubin terjadi karena organ hati bayi belum cukup matang untuk menyingkirkan bilirubin dalam aliran darah. Seiring dengan berkembangnya fungsi organ hati bayi dan mulai meningkatnya asupan bayi, penyakit kuning akan berangsur hilang dengan sendirinya.
  2. Kelahiran Prematur Bayi yang lahir secara prematur memiliki risiko tinggi mengalami kondisi bayi kuning. Hal ini dikarenakan organ hati pada bayi prematur belum matang, sehingga belum mampu mengeluarkan bilirubin secara maksimal. Akibatnya, terjadi penumpukan bilirubin yang kemudian muncul dengan ciri kulit dan bagian putih mata yang menguning.
  3. Perbedaan Golongan Darah dengan Ibu Perbedaan rhesus (Rh) darah antara ibu dan bayi membuat tubuh ibu menghasilkan antibodi yang dapat melawan sel darah merah bayi. Kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan perombakan sel darah merah pada bayi sehingga terjadi penumpukan bilirubin dalam darah bayi. Hal ini dapat dicegah dengan menyuntikkan Rh immune-globulin kepada ibu.
  4. Kekurangan Cairan Kondisi bayi kuning atau ikterus neonatorum juga dapat diakibatkan oleh kekurangan cairan. Kurangnya asupan cairan pada tubuh bayi bisa menyebabkan kadar bilirubin dalam darahnya meningkat. Kondisi ini pun akhirnya menyebabkan bayi mengidap penyakit kuning.
  5.  Infeksi Penyakit kuning (jaundice) pada kondisi bayi yang sehat baru akan muncul 2–3 hari setelah kelahiran. Apabila bayi mengalami masalah ini kurang dari satu hari setelah lahir, ada kemungkinan disebabkan oleh infeksi, kekurangan enzim, atau gangguan sistem pencernaan.
  6.  Nutrisi Tidak Tercukupi Apabila ASI yang dihasilkan oleh ibu tidak mencukupi kebutuhan nutrisi bayi, bayi dapat mengalami dehidrasi dan kekurangan asupan kalori harian. Hal ini dapat mengakibatkan tubuh bayi kekurangan cairan dan terjadi penumpukan bilirubin pada darah bayi, sehingga muncul perubahan warna kuning pada kulit dan mata.

Jika bayi kuning terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam setelah dilahirkan atau menetap setelah 2 minggu, diikuti dengan peningkatan kadar bilirubin yang cepat, yaitu lebih dari 5 mg/dL, kondisi ini disebut dengan penyakit kuning patologis.

Kondisi ini bisa disebabkan oleh beberapa penyakit tertentu, yaitu:

  • Inkompabilitas ABO dan rhesus atau ketidakcocokan golongan darah dan resus ibu dengan bayi
  • Infeksi virus atau bakteri
  • Sepsis pada bayi
  • Perdarahan internal
  • Kerusakan organ hati
  • Kekurangan enzim tertentu, seperti G6PD
  • Masalah pada sistem pencernaan bayi, termasuk atresia bilier

Mommy harus tahu juga Gejala pada bayi yang mengalami ikterik neonatorum yaitu warna kulit pada bayi menjadi warna kuning atau yang sering disebut dengan bayi kuning. Warna kadang-kadang dimulai pada wajah dan kemudian menyebar ke dada, perut, kaki, dan telapak kaki. Terkadang, bayi dengan ikterus parah bertubuh lemah dan tidak mau menyusu.

Baca juga: Tata Cara Mengubur Ari Ari Bayi Biar Ayah Gak Bingung Lagi!

Jenis-jenis Bayi Kuning

  • Kuning Normal yaitu timbul pada hari ke 2 atau ke 3 dan tampak jelas pada hari ke 5 sampai dengan ke 6 dan akan menghilang pada hari ke 7 atau hari ke 10 dan akan menghilang pada hari ke 14. Bayi tampak biasa, minum baik dan berat badan naik.
  • Kuning Tidak Normal yaitu kuning terjadi sebelum umur 24 jam dan  bertahan setelah 8 hari pada bayi cukup bulan atau setelah 14 hari pada bayi kurang bulan. Biasanya disertai tanda-tanda adanya penyakit seperti suhu yang tidak stabil, malas menetek, muntah, penurunan berat badan yang cepat, sesak nafas, gagal nafas, dan penurunan kesadaran.

Pencegahan Bayi Kuning 

Moms and Dad jangan terlalu khawatir Apabila bayi kuning, yang dapat dilakukan adalah : 

  1. Pemberian ASI yang cukup kepada bayi.Pemberian makanan dilakukan dengan pemberian ASI 8 hingga 12 kali sehari. Dengan mencukupi asupan bayi, maka bilirubin dapat dikeluarkan lebih cepat dari tubuh melalui kencing dan tinja. 
  2. Jemur bayi di pagi hari antara jam 7-8 pagi selama 30 menit dengan badan terbuka dan gunakan penutup mata serta popok (untuk bayi laki-laki).

Untuk bayi kuning yang fisiologis, Mommy bisa mencegah kenaikan bilirubin dengan cara : 

  1. Memberinya ASI atau susu formula yang cukup. Bayi yang mengonsumsi ASI harus menyusu 8–12 kali dalam sehari selama beberapa hari pertama kehidupannya.
  2. Pada bayi yang mengonsumsi susu formula, Anda harus memberikan 30–60 ml susu setiap 2–3 jam sekali selama minggu pertama setelah dilahirkan untuk mencegah kenaikan kadar bilirubin dalam darah bayi.Asupan ASI atau sufor yang cukup mampu mengatasi kelebihan bilirubin dalam darah bayi karena nantinya kelebihan bilirubin ini akan dikeluarkan melalui tinja.

Jika Si Kecil mengalami bayi kuning, Anda harus memeriksakan kondisinya secara berkala, terutama di bagian putih bola mata dan kulit. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan sebanyak 2 kali sehari untuk melihat apakah kondisinya sudah kembali normal atau justru bertambah parah. Apabila kondisi bayi kuning tidak membaik setelah 14 hari, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan. Perawatan yang cepat dan tepat akan menurunkan risiko bayi yang terkena sakit kuning mengalami kerusakan otak permanen.

Baca juga: Cukup Mudah, Ini Cara Mengukur Lingkar Kepala Bayi yang Benar!

Penanganan Medis Bayi Kuning

sc Smithsonian Magazine

Penyakit kuning pada bayi biasanya akan menghilang sendiri dalam waktu 2 atau 3 minggu. Untuk ikterus sedang atau berat, bayi perlu tinggal lebih lama di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

  • Perawatan bayi kuning dapat dilakukan dengan Terapi sinar ultraviolet atau sinar UV (fototerapi) yaitu dengan menempatkan bayi di bawah lampu fluoresens yang memancarkan cahaya dalam spektrum biru-hijau. Cahaya mengubah bentuk dan struktur molekul bilirubin sehingga dapat dikeluarkan dalam kencing dan tinja.Selama perawatan, bayi hanya akan memakai popok dan pelindung mata. Terapi cahaya dapat dilengkapi dengan penggunaan pad atau kasur yang memancarkan cahaya. Fototerapi biasanya cukup efektif untuk perawatan bayi kuning, dan biasanya tidak mempunyai efek samping yang berarti. Terapi dilakukan minimal selama 24 jam, bila bayi masih memerlukan fototerapi dapat dilanjutkan 2×24 jam tanpa istirahat. Maksimal pemberian 5×24 jam setelah istirahat selama 12 jam atau setidaknya sampai kadar bilirubin dalam darah kembali ke ambang batas normal dan sesuai dengan instruksi dokter.
  • Exchange transfusion (transfusi tukar), yaitu proses pengeluaran darah bayi menggunakan kateter yang ditempatkan di pembuluh darah dan diganti dengan darah dari donor yang cocok
  • Transfusi imunoglobulin: Prosedur ini biasanya ditujukan pada bayi kuning akibat perbedaan rhesus dengan sang ibu. Tujuan transfusi imunoglobulin adalah mengurangi jumlah antibodi dari ibu.

Baca juga: Ternyata, Begini 5 Cara Menjemur Bayi yang Aman dan Nyaman

Komplikasi yang Mungkin Terjadi pada Bayi Kuning

Bayi kuning yang disebabkan oleh kadar bilirubin tinggi dapat mengalami beberapa komplikasi, seperti:

Ensefalopati akut

Kondisi ini terjadi saat bilirubin pada darah bayi masuk ke area otak, lalu merusak sel-sel otak sehingga menyebabkan ensefalopati. Ada beberapa gejala ensefalopati akut yang dapat muncul pada bayi, antara lain:

  1. Demam
  2. Muntah
  3. Sulit menyusu atau mengisap puting ibu
  4. Lesu
  5. Sulit dibangunkan
  6. Leher dan tubuh melengkung ke belakang
  7. Lebih rewel dan gelisah

Kernikterus

Ensefalopati akut pada bayi kuning yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan kernikterus atau kerusakan permanen pada otak. Kernikterus ini dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan email gigi atau lapisan luar gigi, tuli permanen, kelemahan otot, sulit bicara, hingga cerebral palsy. Namun, apabila bayi kuning setelah lebih dari 3 minggu sejak lahir maka ini bisa menjadi pertanda adanya kondisi lain yang perlu diperhatikan. Sebaiknya konsultasikan kepada dokter mengenai kondisi bayi. Meskipun jarang terjadi, tapi apabila kadar bilirubin meningkat secara berlebihan dan tidak dikeluarkan tubuh, bayi lebih berisiko menjadi tuli, terkena lumpuh otak (cerebral palsy), kerusakan otak (kernikterus) dan bahkan kematian.

Kapan harus berkonsultasi dengan dokter?

Mommy Setelah bayi lahir, dokter akan memeriksa apakah bayi mempunyai penyakit kuning sebelum dipulangkan dari rumah sakit. Selain itu, bayi biasanya harus diperiksa untuk menemukan adanya kondisi bayi kuning di antara hari ke-3 dan ke-7 setelah lahir, karena pada saat tersebut kadar bilirubin biasanya memuncak.

Hubungi dokter jika bayi Anda memiliki tanda atau gejala yang mengindikasikan bayi kuning yang parah atau komplikasi kelebihan bilirubin, seperti:

  • Bagian putih pada mata, dada, tangan dan kaki, terlihat kuning
  • Bayi tidak mau menyusu
  • Bayi tampak lesu atau sakit
  • Bayi sulit mengalami kenaikan berat badan
  • Menunjukkan tanda atau gejala lain yang mengkhawatirkan

Baca juga: 7 Cara Memijat Bayi Agar Tidak Rewel

Penutup

Kelas NEBA Newborn Bahagia

Itu dia penjelasan mengenai Neonatal jaundice atau bayi kuning yang perlu Mommy pahami. Apabila si kecil mengalami gejala serupa, terlebih kondisi prematur, sangat umum untuk menguning karena organ hati yang belum sempurna untuk memecah bilirubin. Meskipun dapat hilang dengan sendirinya, Mommy perlu waspada karena dapat berakibat serius jika jaundice semakin parah. Apabila tidak segera ditangani, bayi bisa terkena penyakit serius seperti cerebral palsy, tuli, dan kerusakan otak.

Tingkat bilirubin normal bayi baru lahir merupakan salah satu tanda kondisi bayi sehat. Apabila bayi tampak kuning dan dicurigai memiliki kadar bilirubin yang terlalu tinggi, sebaiknya segera bawa Si Kecil untuk diperiksa lebih lanjut oleh Doker Spesialis Anak agar dapat diberikan penanganan yang tepat ya Mommy. Mommy   juga bisa mencegah kenaikan bilirubin dengan cara memberinya asupan yang cukup. Asupan tersebut bisa membantu bayi mengeluarkan bilirubin pada tubuhnya.  Mommy bisa menyusuinya dengan ASI sebanyak 8 hingga 12 kali dalam 24 jam. Atau jika Mommy memberikan susu formula, pastikan Mommy memberikannya sesuai waktu yang ditentukan. Biasanya susu formula diberikan sekitar 6 hingga 10 botol dalam 24 jam.

Mommy  juga harus lebih ekstra memerhatikannya. Cek kondisi bagian putih bola mata atau kulitnya dua kali sehari untuk melihat apakah sudah kembali normal atau bertambah parah. Bayi kuning dengan kondisi penyakit tertentu tidak bisa diatasi dengan menjemur bayi dibawah sinar matahari saja ya Mommy and Dad . Penanganan terbaik hanya bisa didapat di rumah sakit. Jika tiga hari setelah dilahirkan kulitnya menjadi lebih kuning, segera hubungi dokter.

Selain itu Mommy bisa mengikuti kelas Ibu Hamil secara online dari TanyaNers. Disini tak hanya diberikan informasi saja , tetapi bisa belajar untuk mengani bayi kuning, Cara  memberikan Asi atau Sufor secara benar bersama Ners konselor yang berpengalaman. Tertarik untuk mengikutinya? Klik di sini untuk pendaftaran dan info lebih lanjut.

 

 

*Artikel ini telah ditinjau oleh Ns. Almira Istiqomah, S.Kep

Referensi:

  • https://uichildrens.org/health-library/management-hyperbilirubinemia-newborn-period
  • https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/first-year-of-life/newborn-jaundice/
Scroll to Top
×