Sembelit pada Bayi: Penyebab dan Cara Mengatasinya

cara mengatasi sembelit pada bayi

TanyaNers Konstipasi pada anak adalah masalah umum yang terjadi ketika anak mengalami buang air besar (BAB) yang jarang atau tinja yang keras dan kering. Untungnya, sebagian besar kasus konstipasi pada anak bersifat sementara. Tidak perlu panik! Kini moms bisa mengetahui cara mengatasi sembelit pada bayi yang akan kami bahas di bawah ini. 

Penyebab Sembelit pada Bayi

sc: Parents

Sebelum mengetahui caranya, moms harus terlebih dulu tahu tentang penyebab sembelit pada anak. Penyebab paling umum adalah perubahan pola makan dan toilet training yang terlalu dini. Namun, sembelit juga bisa disebabkan oleh beberapa hal berikut ini:

1. Transisi ke Makanan Padat

Peralihan dari ASI atau susu formula ke makanan padat dapat memicu sembelit pada bayi. Sistem pencernaan mereka yang belum terbiasa dengan tekstur dan kandungan baru dalam makanan padat membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Sehingga perubahan feses yang menjadi keras dapat menyebabkan sembelit pada bayi. 

2. Susu Formula yang Salah

Berbeda dengan ASI, beberapa susu formula memiliki komposisi nutrisi yang berbeda sehingga lebih sulit dicerna oleh bayi. Perbedaan ini dapat menyebabkan tinja bayi menjadi lebih keras dan lebih besar, sehingga bayi merasa tidak nyaman saat BAB dan mengalami sembelit.

3. Kekurangan Cairan

Asupan air yang kurang memadai dapat menyebabkan tinja bayi menjadi kering dan keras, sehingga sulit dikeluarkan. Hal ini juga dapat dipengaruhi oleh kondisi mulut bayi yang tidak nyaman, seperti saat tumbuh gigi atau sariawan, yang membuat mereka enggan minum atau makan.

4. Bayi Sedang Sakit

Pada bayi di bawah usia 6 bulan, beberapa kondisi medis seperti penyakit Celiac, hiperkalsemia, hipotiroid, penyakit Hirschprung, dan kelainan sumsum tulang belakang dapat menjadi penyebab umum sembelit. Selain itu, keracunan makanan, alergi makanan atau alergi susu sapi, dan faktor psikologis seperti berada di lingkungan asing atau saat bepergian jauh juga dapat memengaruhi bayi untuk mengalami sembelit.

5. Toilet Training

Toilet training memang penting untuk perkembangan anak, tetapi prosesnya bisa memicu sembelit. Toilet training melatih refleks gastrokolik dan defekasi. Hal ini bisa membuat anak buang air besar lebih sering, namun juga bisa menyebabkan sensasi ingin buang air besar yang tidak terduga dan membuat anak menahannya.

Baca juga: Tips Memilih Alat Makan Bayi yang Aman untuk MPASI

Cara Mengatasi Sembelit pada Bayi

cara mengatasi sembelit pada bayi
sc: freepik

Mengetahui penyebab sembelit pada bayi dapat membantu orang tua dalam mengambil langkah pencegahan dan mengatasi masalah ini. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan:

  • Berikan sumber serat: Berbagai makanan kaya serat yang baik untuk anak antara lain sereal tinggi serat, makanan gandum utuh (roti gandum utuh, granola bar, sereal tinggi serat), havermut, kacang-kacangan, sayuran (terutama sayuran berdaun hijau), dan buah-buahan (apel, kismis, pir, prune, dan buah ara).
  • Meningkatkan asupan cairan: Pastikan bayi mendapatkan cukup air putih, terutama jika mereka mengonsumsi makanan padat.
  • Memilih susu formula yang tepat: Konsultasikan dengan dokter anak untuk memilih susu formula yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pencernaan bayi. Karena tidak semua bayi bisa meminum susu sapi.
  • Membuat jadwal BAB yang teratur: Ajarkan bayi untuk BAB di waktu yang sama setiap hari, seperti setelah makan pagi.
  • Memijat perut bayi: Pijatan lembut di area perut dapat membantu merangsang pergerakan usus dan melancarkan BAB.
  • Memberikan obat pencahar: Jika sembelit tidak membaik dengan cara alami, konsultasikan dengan dokter anak untuk mendapatkan resep obat pencahar yang aman untuk bayi.

Pastikan untuk memberikan bayi jumlah serat yang tepat untuk makanan sehari-harinya. Jumlah serat yang benar setara dengan usia anak ditambah 5 gram. Misalnya, anak berusia 5 tahun harus makan 10 gram serat setiap hari (5+5=10), atau anak berusia 9 tahun harus makan 14 gram serat setiap hari (9+5=14).

Selain itu, anak-anak perlu duduk di toilet dua hingga tiga kali sehari selama lima hingga sepuluh menit setiap kali. Waktu terbaik untuk duduk di toilet adalah 5 hingga sepuluh menit setelah makan, karena makanan yang memasuki perut merangsang pergerakan usus besar.

Saat anak duduk di toilet, pastikan kakinya harus menyentuh tanah atau berikan bangku kecil sehingga kakinya tidak menjuntai. Hal yang terpenting adalah selalu positif dan jangan pernah menghukum atau memarahi anak yang sedang toilet training atau mengalami kesulitan BAB.

Bayi: 7 Cara Memijat Bayi Agar Tidak Rewel 

Konsultasikan ke Dokter 

sc: freepik

Setiap bayi memiliki kondisi yang berbeda-beda. Konsultasikan dengan dokter anak untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat untuk sembelit pada bayi Anda. Hindari memberikan obat pencahar tanpa resep dokter karena dapat membahayakan kesehatan bayi.

Meskipun konstipasi pada anak biasanya tidak serius. Namun, konstipasi kronis dapat menyebabkan komplikasi atau menandakan kondisi mendasarinya. Bawa anak Anda ke dokter jika konstipasi berlangsung lebih dari dua minggu atau disertai dengan:

  • Demam
  • Tidak nafsu makan
  • BAB berdarah
  • Perut bengkak
  • Berat badan turun
  • Nyeri saat BAB
  • Sebagian usus keluar dari anus (prolaps rektum)
  • Penyebab Konstipasi pada Anak

Jadi pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter bisa konstipasi atau sembeli pada anak tidak kunjung membaik.

Baca juga: 5 Cara Mengobati Flu pada Bayi dengan Bawang Merah

Ikut Kelas ASI untuk Menghindari Sembelit 

KELAS LAKTASI ASI MASTERY

Seperti yang moms tahu, memberikan ASI sangat penting untuk kebutuhan perkembangan anak meskipun mereka sudah mulai mengkonsumsi makanan pada. Sayangnya tidak semua moms memiliki ASI berlimpah untuk diberikan kepada si kecil. Nah, apapun masalah mom tentang ASI kini bisa diatasi dengan mengikuti kelas ASI Mastery yang langsung dibimbing oleh ners berpengalaman. Temukan semua jawaban untuk pertanyaanmu moms! Jadi tunggu apalagi? Yuk gabung sekarang!

 

 

*Artikel ini telah ditinjau oleh Ns. Almira Istiqomah, S.Kep

Referensi:

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/constipation-in-children/symptoms-causes/syc-20354242
  • https://www.choc.org/programs-services/gastroenterology/constipation/
Scroll to Top
×